BPBD PROVINSI JAWA TENGAH

Jl. Imam Bonjol 1F Semarang | Tel. 024-3519927, 3519904 | email: bpbd@jatengprov.go.id



Penanganan BPBD Kabupaten Tegal Dalam Kejadian Banjir di Empat Desa Kecamatan Margasari

Empat Desa di Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal tertimpa musibah banjir pada 4 Januari 2024. Kejadian ini diakibatkan oleh hujan dengan intensitas tinggi dan berangsur lama sehingga membuat air sungai Kumisik meluap ke permukiman warga dan akses jalan Tegal – Purwokerto pada pukul 16.00 WIB. Desa terdampak kejadian ini diantaranya Desa Prupuk Utara, Kaligayam, Pakulaut, dan Kalisasak. Berdasarkan informasi yang disampaikan BPBD Kabupaten Tegal kejadian ini mengakibatkan ± 75 unit rumah terdampak dan ± 1.453 jiwa mengungsi. Penanganan dilakukan BPBD Kabupaten Tegal dengan berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat guna melakukan pendataan dan mendistribusikan logistik sembako (permakanan) di Desa Kaligayam dan Prupuk Utara. Selain itu pemerintah desa setempat juga mendirikan dapur umum guna memastikan ketersediaan pangan bagi korban terdampak. Kondisi terkini banjir telah surut dan pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing dan melakukan pembersihan material pasca banjir. Akses jalan Tegal – Purwokerto pun juga sudah bisa dilewati.

BPBD Kab. Blora Turun Lokasi Lakukan Penanganan Bencana Banjir di Beberapa Wilayah Kabupaten Blora

Banjir pada Minggu, 4 Februari 2024, Pukul 17.00 merendam beberapa desa di Kabupaten Blora. Kejadian bermula karena hujan tinggi sehingga menyebabkan sungai yang melintasi beberapa wilayah Kab. Blora meluap dan berdampak banjir di pemukiman warga, sekolah, kantor desa, dan jalan. Banjir tersebut merendam 3 kecamatan di Kab. Blora di antaranya Kecamatan Jiken, Cepu, dan Kedungtuban. Walaupun tidak ada korban jiwa, banjir menyebabkan aktivitas warga terganggu karena akses jalan susah dilalui. Selain itu, fasilitas seperti jembatan, sekolah juga ikut terdampak banjir tersebut. Di Desa Cabak, Kecamatan Jiken, banjir merendam rumah warga dengan ketinggian air 40-50 cm. Lalu, Di Kecamatan Cepu terdapat 3 desa yang terendam yaitu Desa Kentong dengan ketinggian air 30-50 cm yang merendam 5 rumah, Desa Mulyorejo dengan ketinggian air 20-40 cm yang merendam 25 rumah, 3 sekolah dan 1 kantor desa, dan Desa Tambakromo dengan ketinggian air 30-50 cm yang merendam 17 rumah dan 1 sekolah. Sedangkan di Desa Kedungtuban, Kecamatan Kedungtuban banjir dengan ketinggian air 30-50 cm merendam akses jalan dam jembatan penghubung Desa Kedungtuban-Galuk. Menanggapi kejadian tersebut, BPBD Kab. Blora melakukan assesment dan penanganan di lokasi bencana.

Bencana Tanah Gerak Semakin Meluas dan Bertambah di Kab. Rembang, BPBD Kab. Rembang Lakukan Upaya Penanganan Bencana

Bencana tanah gerak di Kabupaten Rembang semakin meluas dan bertambah dari tahun ke tahun tepatnya di Dk. Dunglowo Ds. Landoh RT. 01 RW. 05 Kec. Sulang. Bencana yang mulanya terjadi pada tahun 2018, lalu meluas di tahun 2021, 2023 dan kini ditahun 2024 bertambah akibat curah hujan yang tinggi serta arus sungai yang deras. Kejadian tersebut menyebabkan tanah bagian bawah terguras dan membuat amblas beberapa tanah lainnya. Amblasnya tanah mengakibatkan 3 rumah warga terdampak pada Kamis, 18 Januari 2024. 1 rumah milik Bapak Tasmin mengalami roboh, dan 2 lainnya mengalami rusak parah yaitu rumah milik Ibu Ratemi dan Bapak Wanto. Menurut data, dari tahun 2018 total KK yang terdampak yakni 8 KK dari kejadian tersebut. Selain merusak rumah warga, kejadian tersebut juga menyebabkan kerusakan yang lainnya seperti kerusakan lingkungan yang meliputi sepadan sungai, kebun dan tanah milik warga dengan total luasan panjang 42 meter, lebar 38 meter, tinggi 7 meter, serta kerusakan prasarana lingkungan seperti drainase dan pipa rumah. Akibat kejadian tersebut, warga mengalami kerugian sebesar Rp. 555.000.000. Upaya penanganan terus dilakukan oleh BPBD Kabupaten Rembang dengan dilakukannya assesment pada tanggal 22 Januari 2024. Setelah itu, dilakukan kerja bakti untuk pembangunan hunian relokasi bagi warga terdampak. Saat ini 6 KK yang sudah direlokasi dengan total 5KK direlokasi di tanah milik pribadi dan 1KK direlokasi ditanah milik desa. Selain itu, BPBD Kab. Rembang juga melakukan kerja bhakti pembuatan tanggul darurat dari rajek bambu.

BPBD Kabupaten Rembang Tangani Kejadian Gelombang Pasang di Desa Gegunung Kulon

BPBD Kabupaten Rembang melaporkan telah terjadi gelombang pasang setinggi 1,7 meter dengan jarak pasang 5 meter dari garis pantai di kawasan hilir timur DAS Bedahan tepatnya di Desa Gegunung Kulon. Kejadian tersebut diakibatkan oleh cuaca ekstrem berupa gelombang tinggi pada hari Senin, 22 Januari 2024 pukul 19.00 WIB. Dampak yang ditimbulkan berupa robohnya bangunan atas talud atau bangunan pengaman pantai dengan ukuran 6 meter, lebar 4,8 meter dan tinggi 1,5 meter. Kerusakan talud di kawasan ini sudah terjadi sekira sejak tahun 2018 dan saat ini kerusakan tersebut sepanjang ± 25 meter termasuk talud di sebelah barat lokasi kejadian yang juga mengalami kerusakan dan belum dilaporkan ke BPBD sebelumnya. Kerugian kejadian gelombang pasang ini ditaksir mencapai Rp 75.000.000,-. Penanganan dilakukan BPBD Kabupaten Rembang dengan mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan kajian kawasan terdampak dan kebutuhan penanganan.

Beberapa Tautan Terkait

  • Bencana alam terjadi di luar kendali kita. yang ada dalam kendali kita adalah sikap kita dalam menghadapi musibah tersebut.
  • Berilah bantuan kepada orang-orang yang tertimpa musibah, karena mereka dengan senang hati akan membantu anda jika anda yang tertimpa musibah.
  • Alam diciptakan dengan indahnya. Setiap bencana yang terjadi adalah cara alami alam dalam merawat keindahannya.
  • Bencana alam adalah pengingat bagi kita bahwa kita harus lebih memperhatikan keseimbangan alam, lebih memperhatikan kemanusiaan, lebih memperhatikan hakikat diri.
  • Jika anda bersyukur atas apa yang ada saat musibah terjadi, itu adalah tanda-tanda kalau anda siap untuk diberikan jutaan nikmat yang melimpah.
  • Setiap kenikmatan adalah musibah jika kita menyikapinya dengan buruk. Setiap musibah adalah kenikmatan jika kita menyikapinya dengan baik.
  • Kemarin dan esok adalah hari ini. Bencana dan keberuntungan sama saja. Langit di luar, langit di badan, bersatu dalam jiwa” [W.S. Rendra]
  • Dalam alam yang indah dan tenang, kita belajar akan keindahan. Dalam alam yang dihinggapi bencana, kita belajar pentingnya merawat keindahan tadi.
  • Semakin kita menelantarkan lingkungan hidup, semakin sering kita melihat bencana tercipta.